News Update :
Showing posts with label Kriminalitas. Show all posts
Showing posts with label Kriminalitas. Show all posts

Rampok Dompet BukanNya Untung Tapi Malah Di Hajar Massa

Nls/Kisaran, Senin 30/04 sekitar pukul 18.00wib kejadiannya di jalan Marah Rusli Kisaran, tiba-tiba Seorang Wanita terjatuh dari sepeda motornya saat diserempet oleh dua pemuda yang juga mengenderai sepeda motor.
Menurut pengakuan Korban, Suyati (34thn) warga jalan Budi Utomo saati itu melintas dari jalan Syech Hasan. Menurut korban, pengendara yang melakukan perampokan tas miliknya sudah mengikutinya sejak awal. Setelah di jalan marah rusli barulah para tersangka melakukan perampasan terhadap tas suyati.
Untuk suyati tersadar kalau ternyata dompetnya telah di rampas oleh pengendara sepeda motor yang sedari tadi mengikutinya.
Dengan sigap suyati mengejar perampok tersebut sembari meneriaki copet, warga mendengar teriakan suyati lantas ada warga yang ikut mengejar penjambret bersepeda motor yang menjamret dompet suyati. Menurut suyati isi dompet berupa uang sekitar Rp.200 ribu dan satu buah Handpone.

Setelah dilakukan pengejaran, entah kenapa tiba-tiba penjambret yang mengenderai sepeda motor tersebut terjatuh tepat di persimpangan jalan.
Massa yang sudah mengetahui bahwa mereka adalah jambret yang sudah mengambil dompet suyati langsung menghakimi pelaku, untungnya pada saat kemarahan warga petugas patroli kebetulan lewat dan langsung melerai massa dan membawa pelaku jambret tersebut. Sayangnya hanya satu pelaku jambret yang tertangkap sedang temannya yang satu lagi berhasil melarikan diri.

Tersangka diampankan oleh petugas dan dibawa ke Mapolres Asahan, berdasarkan informasi, tersangka sebelumnya pernah melakukan kejahatan yang sama dan pelaku juga tertangkap hingga dihukum 3 bulan penjara. Dan menurut data dari kepolisian, tersangka pernah tertangkap saat merampas harta benda milik Yuni (54thn) warga jalan setia budi Kisaran. Tersangka juga mengakui bahwa kejadian sebelumnya dia bertindak bersama temanya yang berhasil melarikan diri.

Kapolres Asahan AKBP Yustan Alpiani dikonfirmasi melalui Kasat Reskrim AKP Fahrizal membenarkan, pelaku ditangkap massa karena merampas dompet pengendara sepeda motor. Sebelumnya juga pernah tertangkap dalam kasus yang sama, sebut Fahrizal.source (kis|me)
 

Akibat Penikaman Terhadap Inang Pdt. Melati ButarButar, Pernikahan Ditunda

Foto diambil dari Facebook/groups/BBC
NLS/SIANTAR–Pernikahan Pdt Melati Butarbutar STh dengan Pdt Reinahard Lumban Tobing STh yang rencananya digelar pada 23 Februari 2012 mendatang, ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan. Hal itu dilakukan karena kondisi Inang Pendeta masih dalam perawatan di Rumah Sakit Vita Insani.
Informasi tersebut diperoleh METRO dari Pengurus Gereja HKBP Resort Siantar P Sarumpaet, Minggu (19/2). Ia mengatakan, Minggu (19/2) pagi pukul 05.30 WIB, keluarga pihak yang akan melangsungkan pernikahan, yaitu Tiaurma Br Hutagaol, ibu dari Pdt Melati Butarbutar bersama-sama dengan Reinhard Lumbantobing, memberitahukan kepada pengurus gereja bahwa pernikahan antara Melati Butarbutar dan Reinhard Lumbantobing ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Penundaan dilakukan karena kondisi kesehatan Melati Butarbutar yang dirawat di RS Vita Insani Ruang 458, belum memungkinkan melangsungkan acara pernikahan.
P Sarumpaet menjelaskan, hingga Sabtu malam pihaknya masih menunggu pemberitahuan apakah ditunda atau tidak, sehingga dalam warta jemaat direncanakan akan disebutkan bahwa pernikahan tetap dilangsungkan.
Namun pihak keluarga Melati Butarbutar tiba-tiba mendatangi pengurus gereja pada Minggu (19/2) pagi sekira pukul 05.30 WIB memberitahu penundaan tersebut, sehingga warta jemaat diperbaiki Alhasil, jemaat akhirnya mengetahui bahwa pernikahan resmi ditunda.
Ia menambahkan, penundaan tersebut sudah disampaikan kepada Pengurus Gereja HKBP yang berada di Jakarta tempat Melati dan Reinhard melaksanakan Martumpol 4 Februari 2012 lalu.
Sementara itu, Melati Butarbutar terlihat lemah di Ruang 458 VIP ukuran sekitar 5 x 5 meter. Aktivitas yang dilakukan Melati hanya bisa menonton televisi dan menggunakan Handphone. Sedangkan ia belum bisa jalan kaki karena ia masih membutuhkan istrahat penuh untuk mempercepat proses penyembuhan.
Sementara itu, para keluarga dan jemaat HKB tampak memenuhi ruangan untuk melihat kondisinya. Akan tetapi pihak keluarga belum mengijinkan METRO masuk dan mewawancarai Melati Butarbutar.
Pdt Reinhard Lumban tobing STh, calon suami Melati Butarbutar kepada METRO mengatakan, penundaan acara pernikahan atas hasil musawarah pihak keluarga Melati Butarbutar dengan pihak keluarganya. Mengingat kondisi kesehatan Melati Butarbutar belum memungkinkan untuk melangsungkan pernikahan.
Terkait kondisi Melati, Reinhard mengatakan sementara ini sudah ada kemajuan. “Ia (Melati) sudah bisa duduk ketika temannya datang. Namun ia belum bisa jalan karena masih membutuhkan istrahat,” katanya.(mag-1)
Ia membenarkan, ia dengan Tiurma Br Hutagaol selaku ibu Melati Butarbutar dan didampingi keluarga yang lain, datang menemui Pengurus Gereja HKBP Resort Siantar di Jalan Gereja, Minggu (19/2) pukul 05.30 WIB untuk menyampaikan penundaan acara pernikahan agar diwartakan kepada Jemaat ketika kebaktian bahwasanya pernihkan tersebut ditunda hingga batas waktu yang tidak ditentukan, karena Melati Butarbutar masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Vita Insani.
Pdt. Melati Butarbutar, anak dari Binsar Butarbutar dan Tiurma Br Hutagaol. Sementara Pdt Reinhard Lumban Tobing anak dari Pdt Robert Lumban Tobing dan Rosminaria Br Munthe seyogiyanya menikah pada Kamis 23 Februari 2012 di Gereja HKBP Resort Siantar di Jalan Gereja.
Inang Pendeta Melati Butarbutar yang bertugas di HKPB Panambean I Nagori Silakkidir Kecamatan Hutabayua Raja dianiyaa oleh Erwin Pandiri Nadapdap (15), Rabu (15/2) sekitar Pukul 23.30 WIB di rumah dinasnya. Dengan menggunakan pisau, Erwin Pandiri Nadapdap menikam Melati hingga beberapa liang ketika Melati tidur di kamarnya. Erwin yang tinggal di Panambean I masuk ke rumah Melati melalui samping rumah dan langsung menghujamkan pisaunya ke tubuh Melati.
Beruntung warga setempat datang dan membawa Melati dengan bersimbah darah ke bidan terdekat. Sedangkan Erwin yang tidak dapat melarikan diri terlebih dahulu dimassakan warga sebelum aparat kepolisian datang. Akibatnya Erwin menjalani perawatan di Rumah Sakit Dr Sudung Sinaga Balimbingan Tanah Jawa.
Karena perbuatan Erwin, esoknya Melati Butarbutar menjalani operasi besar karena luka tusukan yang cukup parah di bagian dada dan hampir menembus paru-paru. Sedangkan bagian tubuh lain, seperti kepala dan tangan harus dijahit. Alhasil pemberkatan pernikahan tak mungkin dilakukan.
Hingga saat ini, motif Erwin menganiaya Inang Pendeta Melati Butarbutar belum diketahui karena kepolisian belum memeriksa Erwin yang masih dirawat akibat amukan warga. Sementara itu, Melati Butarbutar juga belum bisa dimintai keterangan oleh polisi mengingat kondisi kesehatan yang belum memungkinkan.

News Source From :
Metrosiantar.com

Kasus Penikaman 16 liang terhadap Inang Pendeta di Kabupaten Simalungun

Foto diambil dari Facebook/groups/BBC
Biodata Pdt Melati br Butarbutar :
  • 2009, Tamat STT HKBP Pematangsiantar
  • 2009, praktik pendeta di HKBP Silaban Dolok Sanggul
  • Juni 2010, bertugas di HKBP Panambean Silakkidir
  • April 2011 ditahbiskan di HKBP Dolok Sanggul

Simalungun, Rabu (15/2) sekira pukul 23.30 WIB. Panambean I Resor Raja Maligas, Nagori Silakkidir, Kecamatan Hutabayu Raja, Kabupaten Simalungun Tiba-tiba digegerkan atas penikaman 16 liang terhadap seorang pendeta yaitu Pdt Melati br Butarbutar.
Sebelum melakukan Penikaman, pelaku diduga ingin memperkosa Pdt Melati br Butarbutar... Sadis, setelah gagal melakukan pemerkosaan, Erwin Pandiri Divisi Nadapdap malah menganiaya korban secara membabibuta. Korban ditikami hingga 16 liang, sehingga dilarikan dan dirawat intensif di RS Vita Insani Siantar.
Sementara tersangka Erwin Pandiri Divisi Nadapdap mengalami luka parah pada bagian kepala dan tangan kiri karena sempat diamuk massa. Pelaki kini dirawat di RS dr Sudung Sinaga, Simpang Tangsi Balimbingan, Tanah Jawa.

Kapolsekta Tanah Jawa Kompol B Siallagan SH ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya membenarkan terjadinya kasus penganiayaan yang dilakukan tersangka kepada Ibu Pendeta. Kata Kapolsek, motif penganiayaan itu diduga ada niat tersangka melakukan pemerkosaan.
Namun saat ditemui di RS Sudung Sinaga, tersangka membantah hendak memperkosa. Dia memasuki rumah pendeta tersebut untuk mencari senter. Dia mengaku, malam itu dia sedang melintas di depan Gereja HKBP Panambean. Dia berencana mengikatkan tali kerbau miliknya pada tambatan. Kebetulan dari tiga kerbau miliknya, ada satu talinya putus.

Menurut tersangka, malam itu dia tidak punya alat penerangan, sehingga timbul niatnya memasuki rumah dinas Pendeta yang kebetulan tidak jauh dari tempat kerbaunya ditambatkan. Tersangka beranggapan bahwa Pendeta masih berada di Jakarta, sebab setahunya ibu pendeta sedang ke Jakarta mengikuti acara adat martuppol menjelang pernikahannya. Tersangka lalu memanjat dan membongkar dinding dapur yang terbuat dari papan. Setelah membuka dua lembar papan, dia masuk.
Tersangka kemudian bergerak ke ruang tamu untuk mencari siapa tahu di rumah itu ada senter. Tapi di atas meja yang ada televisi, tersangka justru melihat pisau dapur dan mengambilnya. Sementara senter tidak ditemukan. Korban lalu masuk ke kamar yang malam itu ditempati ibu pendeta.
Saat tersangka masuk ke kamar, Ibu Pendeta terbangun dari tidurnya. Dengan perasaan takut, Ibu Pendeta mengatakan, “Kenapa kamu masuk ke rumah tanpa permisi?” Tersangka menjawab bahwa ia ingin mencari senter. Ibu pendeta lalu menyarankan untuk tidak mengganggunya. “Jangan kamu ganggu saya. Kalau kamu menginginkan emas dan uang di sana tempatnya,” ujar pendeta sambil menunjuk lemari.
Kemudian pendeta mencabut perhiasan emas dari lehernya sambil menyerahkan kepada tersangka. Tapi tak berapa lama, pendeta berteriak minta tolong. Teriakan itu membuat tersangka ketakutan dan langsung menyumpal mulut pendeta dengan kaos yang dipakainya.

Menurut sumber di kepolisian berdasarkan keterangan tersangka, malam itu terjadi pergumulan di kamar tidur pendeta. Pada saat kritis itu, pendeta berhasil merampas pisau dari tangan kanan tersangka. Tak mau kalah, tersangka nekat merampas pisau hingga telapak tangan kirinya mengalami luka sayat. Juga terjadi tarik-menarik pisau di kamar tidur. Pada satu kesempatan, tersangka berhasil merampas pisau dari tangan Pendeta. Saat merampas itu, ujung pisau menembus perut pendeta. Darah segar menggenang di atas sprei tempat tidur, hingga tembus ke tilam. Ibu pendeta yang sudah terluka berusaha berteriak sekuat tenaga.
Teriakan Ibu Pendeta didengar oleh Simon Butarbutar (51), warga setempat. Tersangka yang sudah kalap langsung menusukkan ujung pisaunya ke tubuh pendeta sebanyak 11 liang. Dalam keadaan kritis, korban masih berusaha minta tolong dengan berjalan menuju pintu belakang. Sesampainya di dapur dekat pintu kamar mandi, korban terjatuh dengan tubuh telentang.
Saat tersangka hendak menusukkan kembali pisau ke tubuh pendeta, tiba –tiba muncul Simon Butabutar dari belakang sambil mengatakan, “Jangan kau tikamI!” Menyadari seseorang datang, tersangka bersembunyi di tembok dekat kamar mandi.
Simon bersama seorang anaknya mengevakuasi korban dan membawanya ke bidan terdekat. Tapi akibat pendarahan hebat yang dialami korban, ia dilarikan ke RS Vita Insani Pematangsiantar.
Sementara itu, tersangka yang tubuhnya berlumuran darah ditangkap warga dari balik tembok kamar mandi. Warga yang sudah mulai ramai langsung menghajar tersangka hingga babak belur.
Setelah mendapat informasi tersebut, Kanit Reskrim Polsekta Tanah Jawa AKP Liston Siregar bersama anggota langsung meluncur ke TKP. Korban yang sempat jadi bulan-bulanan massa dapat diselamatkan. Tapi massa yang sudah beringas nekat menerobos petugas untuk menghakimi tersangka. Namun berkat pendekatan yang dilakukan petugas, massa bisa menerima dan malam itu tersangka dilarikan ke RS dr Sudung Sinaga.
Rencana Pindah ke Tobasa
Praeses Distrik XXIV Tanah Jawa Pdt SP Sirait ketika dikonfirmasi METRO mengatakan, Pdt Melati br Butarbutar adalah alumni STT HKBP Pematangsiantar tahun 2009. Setelah tamat, korban praktek pendeta di HKBP Silaban Dolok Sanggul Distrik Humbang.
Usai praktek dari Dolok Sanggul, korban melanjutkan praktek kedua di Gereja HKBP Panambean I Resort Raja Maligas Nagori Silakkidir Kecamatan Hutabayuraja. Bulan April tahun lalu, korban ditahbiskan di HKBP Dolok Sanggul. Setelah itu korban resmi menyandang predikat pendeta dan bertugas di HKBP Panambean Silakkidir.
Pdt SP Sirait menambahkan, korban sebetulnya sudah punya rencana pindah ke HKBP Pangambusan Distrik IV Toba Kabupaten Tobasa. Namun karena pendeta setempat belum pindah, terpaksa ditunda. Realisasi perpindahan direncanakan setelah korban menikah.
Pesta perkawinan ibu pendeta direncanakan dilangsungkan Kamis (23/2) di Pematangsiantar. Padahal awal Februari, pendeta sudah melaksanakan acara Martumpol di tempat calon mertuanya di Jakarta. Calon suami korban disebut seorang pendeta yang bertugas di Bengkulu.
Pangulu Sillakidir Marulak Sitinjak mengatakan, warga Panambean I sangat sedih atas kejadian yang menimpa pendeta itu. Selama bertugas hampir 1,5 tahun, jemaat menyenanginya. Pendeta ini sering disebut dengan panggilan Inang. Pendeta juga rajin mengunjungi rumah jemaatnya. Anak-anak juga sangat simpati kepada pendeta.
Di tempat terpisah, orangtua tersangka Jannus Nadapdap (36) dan Romlah br Butarbutar yang ditemui METRO di kedimannya di Huta Panambean II mengaku sangat terpukul atas kejadian yang dilakukan anak sulungnya.
Jannus Nadapdap menambahkan, Kamis (16/2) pagi sekira pukul 06.00 WIB, ia pergi menemui tersangka di rumah ompungnya di Huta Panambean I yang jaraknya sekitar 200 meter. Ia berencana mengajak anaknya itu pergi ke sekolah. Namun betapa terkejutnya ketika melihat kerumunan orang di Panambean II.
Warga menceritakan perbuatan anaknya yang telah menganiaya Pendeta. Dengan perasaan hancur, Jannus pulang ke rumah dan menceritakan kejadian tersebut kepada istri dan anak-anaknya. Mendengar cerita itu, ibu tersangka Romlah br Butarbutar jatuh pingsan.
Jannus mengatakan, tersangka yang merupakan anak paling besar dari 5 bersaudara, memiliki sifat pemalu dan pendiam. Tersangka selama ini tak pernah punya hp dan selalu rajin sekolah.
Tersangka tinggal di rumah ompungya selama 4 hari sejak Minggu (12/2) untuk menjaga rumah, sebab ompungnya pergi menghadiri pesta keluarga di daerah Perawang Pekan Baru dan baru pulang, Kamis (16/2) siang. Selama ompungnya berada di Pekanbaru, tersangka mengembalakan ketiga kerbau milik orang tuanya.
Atas kejadian ini, Jannus Nadapdap minta maaf kepada keluarga korban. “Saya sangat minta maaf kepada korban dan keluarganya. Biarlah proses hukum yang berjalan atas kasus ini,” katanya pasrah. (iwa)

News Source From :
Metrosiantar.com

Categories

 
Copyright © 2011. NEWS LINTAS SUMATERA . All Rights Reserved.
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Design by Creating Website. Inspired from Metamorph RocketTheme