News Update :
Showing posts with label Criminalitas. Show all posts
Showing posts with label Criminalitas. Show all posts

Polres Tanjungbalai Musnahkan Narkoba Jenis Sabu-Sabu Senilai Rp 5 Miliar Lebih

NSN/Tanjungbalai - Dalam acara pemusnahan Barang bukti Narkoba Jenis Sabu - Sabu yang di lakukan di halaman Kapolres TanjungBalai, 20/3/12.
Adapun barang bukti narkoba sabu-sabu ini diperoleh dari hasil tangkapan mulai desember 2011 sampai dengan maret 2012 diperhitungkan sebanyak 5,23 kg.
Pada acara pemusnahan barang bukti Narkoba jenis sabu-sabu ini juga dihadiri oleh Muspida, Muspika, dan instansi terkait.
Kapolres Tanjungbalai Drs. EP. Sirait menyatakan “Apabila ada kasus yang terkait dengan Narkoba, dan terjaring di lingkungan Kapolres Tanjung balai, Kapolres Drs. EP Sirait tidak akan pandang bulu dalam memberantas Peredaran Narkoba di wilayah Hukumnya.
Siapapun yang tertangkap, baik dia dari masyarakat maupun Instansi Pemerintah.
Sejak Kapolres Tanjungbalai Drs.EP. Sirait Sudah dua kali melaksanakan pemusnahan Narkoba hasil Tangkapan dari Kepolisian.
Maka dari itu, Kapolres Tanjungbalai menghimbau kepada seluruh kalangan masyarakat Tanjungbalai agar tidak ada lagi penggunaan narkoba di wilayah hukumnya.
Apabila masih ada yang tertangkap maka tidak ada Ampun baginya, ujar Kapolres.
Dalam Acara Pemusnahan Narkoba jenis sabu ini turut juga dihadiri Kasat Narkoba AKP Novie Ardhie dan Wakapolres Junaidi SH.
Sebelum Barang Bukti Narkoba jenis sabu ini dimusnahkan terlebih dahulu diteliti oleh tim penyelidik Narkoba dari Medan. Dan setelah diteliti maka dilakukanlah pemusnahannya dengan cara Membuangnya Kedalam wc agar tidak dapat disalah gunakan lagi oleh oknum ataupun yang terkait. (Eks)

anggota Polda Sumut tewas dibakar massa

NLS/Pancurbatu - Dua anggota Kepolisian Daerah Sumatra Utara (Polda Sumut) tewas dibakar massa pada Ahad (26/2) sekitar pukul 20.30 WIB. Kedua korban adalah Brigadir Ricardo Sitorus dan Brigadir Markus Siregar.

“Telah terjadi penganiayaan yang dilakukan warga sekitar Desa Lau Bekeri Kecamatam Kutalimbaru dan warga Desa Sei Glugur Kecamatam Pancur Batu Sumut terhadap lima anggota Ditreskrimum Polda Sumut,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri Inspektur Jenderal Polisi Saud Usman Nasution di Jakarta, Senin (27/2).

Peristiwa berawal ketika mereka hendak menangkap bandar toto gelap (togel) berinisial K. Saat penangkapan, tersangka berusaha melarikan diri sambil berteriak maling.

“Hal tersebut menyebabkan warga di sepanjang jalan melempari mobil yang dikendarai lima anggota Polda Sumut itu. Setibanya di Jalan Glugur Rimbun Simpang Lonceng, kendaraan tim Ditreskrimum Polda Sumut itu dihadang sepuluh unit sepeda motor, sehingga kendaraan terhenti,” kata Saud.

Selanjutnya warga menyeret mereka keluar mobil sambil memukuli. Saat penganiayaan berlangsung, korban berteriak bahwa mereka anggota Polri, namun teriakan tersebut tidak dihiraukan dan langsung membakar kendaraan Kanit Reskrim Polsek Kutalim Baru tersebut. Dua personel ikut terbakar dan meninggal dunia di tempat kejadian perkara (TKP).

“Sedangkan tiga anggota lainnya dapat menyelamatkan diri, yakni Brigadir Albertus Zebua, Brigadir Moses Mindo Purba dan Brigadir Bambang Irwanto,” kata Saud.(DNI)


Recoure News From :
News.Tobaonline

Wadir Narkoba Poldasu Dicopot akibat Narkoba

Nikmati Pil Happy Five Bersama Wanita Saat Karaoke

NSN/Medan - Karir kepolisian Wakil Direktur (Wadir) Narkoba Poldasu AKBP Apriyanto Basuki Rahmat terpaksa ‘tamat’ akibat ulahnya sendiri. Pasalnya, AKBP Apriyanto dicopot dari jabatannya dan dipindahkan ke Pamen Bid Propam Poldasu akibat mengonsumsi pil Happy Five (termasuk narkoba). Bahkan, dirinya mengonsumsi pil itu dengan wanita bernama Sri Agustina.

Pencopotan orang nomor dua di Direktorat Narkoba Polda Sumut tersebut langsung dikatakan Direktur Narkoba Polda Sumut Kombes Pol Andjar Dewanto saat dikonfirmasi Sumut Pos, Selasa (20/2) di Markas Ditresnarkoba Polda Sumut.

Tidak seperti biasanya, bila ada penangkapan narkoba, Direktur Narkoba Polda Sumut langsung mengekspos. Namun, kasus yang melibatkan Wakil Direktur Narkoba ini seperti tertutup. Tampaknya sengaja disembunyikan agar tidak terekspos media. Tapi, seperti pepatah; bangkai disimpan di manapun, baunya akan tercium juga.

Terkuaknya kasus ini berawal dengan kedatangan seorang wanita separuh baya mengaku bernama Ratnawati Simamora (55). Ratna yang beralamat tinggal di Jalan Stasiun No 84, Kedai Durian, Kelurahan Medan Johor tersebut, terlihat ribut dengan raut wajah kesal berjalan menuju markas Ditresnarkoba Polda Sumut. Wartawan koran ini yang merasa penasaran menemui Ratna dan menanyakan kekesalannya. Dengan penuh emosi, Ratna pun cerita kalau dirinya sangat keberatan atas penangkapan anak kandungnya, Ade Hendrawan (29). Ade merupakan waiters di Karaoke Paramount, Jalan Merak Jingga Medan.

Ratna pun bercerita soal penangkapan anaknya hingga ditahan oleh Dit Narkoba Poldasu. Kata Ratna, anaknya ditangkap karena kasus narkoba jenis pil Happy Five atau lebih dikenal dengan sebutan H5. “Anak saya ditangkap dari rumah tanpa ada surat penangkapan dan barang bukti,” aku Ratna.
Menurut cerita Ratnawati Simamora, penangkapan anaknya itu bermula pada Sabtu (12/2) lalu. Saat itu, Wadir Narkoba Poldasu AKBP Apriyanto Basuki Rahmat bersama dengan teman wanitanya, Sri Agustina, warga Asam Kumbang, berada di Karaoke Paramount, Jalan Merak Jingga Medan.

Lalu, AKBP Apriyanto meminta kepada Ade untuk menyediakan pil H5. “Siapa bosmu, minta sama dia H5,” ujar Ratnawati menirukan cerita anaknya.
Kemudian, Ade saat itu memenuhi permintaannya. Ade lalu meminta H5 kepada bosnya di tempat hiburan itu, Jhonson Jingga, yang disebut-sebut sebagai pemilik Karaoke Paramount. Setelah menerima dari Jhonson Jingga, Ade pun memberikan 1 papan H5 berisi 8 butir pil kepada Wadir Narkoba. “Setelah memberikan H5 pada polisi itu, anakku pulang ke rumah karena sudah habis jam kerjanya,” jelas Ratnawati.

Namun, lanjutnya, setelah anaknya pulang, segerombolan polisi dari Dit Narkoba Poldasu datang merazia tempat hiburan karaoke tempatnya bekerja. “Mungkin saat dirazia, si Wadir Narkoba dan teman wanitanya, Sri Agustina terjaring,” ujarnya.

Selang dua hari, tepatnya Senin (14/2) dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB, kata Ratnawati, rumahnya didatangi beberapa orang mengaku polisi. Salah satu mengaku sebagai Direktur Reserse Narkoba Poldasu untuk mencari anaknya, Ade. “Waktu mereka datang mencari Ade, polisi-polisi itu mengaku hanya meminta keterangan Ade soal masalah label minuman,” ungkap Ratnawati, seraya menjelaskan bahwa saat itu, bos tempat anaknya berkerja (Jhonson Jingga), juga ikut dalam rombongan Dir Narkoba ke rumahnya.

Lalu, dia dan suaminya, Rahman, mengantarkan rombongan itu ke rumah Ade. Sebagai informasi, Ade memang sudah tidak tinggal lagi dengan Ratnawati. Rumah Ade berada di Jalan Suka Maju Medan. “Begitu sampai di rumah Ade, polisi langsung menangkap anak saya dan dibawa ke Dit Narkoba Poldasu,” ujarnya.

Saat itu, Ratnawati mengaku anaknya sempat menanyakan, di mana Wadir Narkoba yang menurutnya juga terkait dengan kasus ini. Namun, oleh Dir Narkoba mengatakan kalau AKBP Apriyanto sedang berada di Hongkong. “Saya baru di sini bu dan saya tak pandang bulu untuk menindak anggota saya bila terbukti bersalah,” ujar Ratnawati menirukan apa yang disampaikan oleh Kombes Andjar waktu itu.

Ratnawati, yang juga Kepling di tempat tinggalnya mengatakan, pada saat ia menjenguk Ade di penjara, Ade pernah menyampaikan bahwa ada orang dari pihak Jhonson Jingga meminta Ade agar mengakui barang tersebut adalah miliknya. “Anakku bilang gini sama ku: Mak, ada orang yang datang dari pihak Jhonson menjumpaiku, menyuruh aku mengakui barang itu punyaku,” kata Ratnawati mengulang cerita anaknya.

Namun, permintaan itu ditolak Ade, dengan alasan berhubungan saja dengan Ratnawati. Tapi, tak seorangpun yang mau mendatangi Ratnawati. “Kalau Wadirnya tidak dihukum, jangan hukum anakku .Kalau memang mau dilepaskan, lepaskan semua,” kata Ratnawati.

Selain itu, Ratnawati juga meminta Wadir Narkoba, AKBP Apriyanto juga harus diproses dan ditahan, karena dialah yang meminta obat itu sama Ade. “Ini sudah aneh. Anakku cuma disuruh untuk minta sama bosnya. Kalau memang sedang dilakukan razia, kenapa tidak saat itu juga anak saya ditangkap, mengapa ditangkap sehari setelah obat itu diserahkannya pada AKBP Aprianto,” kata Ratna.

Adapun saat razia yang langsung dipimpin Kombes Pol Anjard Dewanto dan AKBP Suwadi tempo hari, tim berhasil menangkap dua orang. Yakni, Jhonson Jingga dan seorang wanita bernama Sri Agustina yang diakui Ade datang bersama Aprianto.

Kedua orang yang diamankan tersebut mengaku mendapatkan Happy Five tersebut dari Ade Hendrawan, yang bekerja sebagai waters. “Padahal pengakuan anak saya, dia disuruh Wadir Narkoba untuk mengambilkan happy five itu ke bosnya. Tapi kok malah pengakuan si Jhonson terbalik, anak saya dibilang memberikan ke Jhonson,” kata Ratnawati.

Sementara itu, Direktur Narkoba Kombes Andjar Dewanto yang ditemui Sumut Pos di ruang kerjanya guna dikonfirmasi terkait kasus ini membantah melakukan penangkapan di luar prosedur. Sedangkan soal Wadir Narkoba, dia mengatakan masih pendalaman. “Masih pendalaman. Kita akan periksa petugas (Wadir) yang diduga terlibat dalam kasus ini,” terang Anjard.

Dia menceritakan, penangkapan Jhonson Jingga dan Sri Agustina berawal dari razia rutin yang digelar di tempat hiburan malam. Saat razia di klub malam Jalan Merak Jingga dan polisi mengamankan delapan butir pil happy five. Seketika keduanya dibawa ke Mapolda Sumut untuk diperiksa. Disinggung keberadaan AKBP Apriyanto di lokasi, Anjar menyatakan yang bersangkutan tidak dalam tugas saat itu dan secara kebetulan sedang berada di tempat yang sama.

Sedangkan Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Heru Prakoso ketika dihubungi Sumut Pos membenarkan kasus tersebut. “Benar, saat ini Wadir Narkoba AKBP Apriyanto telah dicopot dari jabatannya. Adapun pencopotan itu berdasarkan Surat Perintah Kapolda Sumut Irjen Pol Wisjnu Amat Sastro dan sementara jabatan tersebut masih kosong,” ujar Heru.

Dikatakanya, Apriyanto sejak 17 Februari sudah dipindahkan menjadi Perwira Menengah (Pamen) di Bid Propam Poldasu. Dicopotnya Apriyanto sebagai Wadir Direktorat Reserse Narkoba Poldasu tersebut dikarenakan adanya indikasi penggunaan narkoba. “Jika benar terbukti bersalah akan kita beri sanksi,” tambah Heru.

Saat ditanya apakah narkoba itu untuk dipakai sendiri atau digunakan menjebak seseorang atau menjebak orang lain, Heru mengatakan kalau memang dua alasan itu penyebabnya, tetap merupakan tindakan yang salah.

Heru menambahkan pencopotan Apriyanto untuk mempermudah pemeriksaan yang dilakukan Dit Narkoba terhadap yang bersangkutan. Selain itu, Heru juga mengatakan pembebasan tugas ini juga termasuk sanksi yang diberikan.

Sementara itu, ternyata bukan hanya jabatan saja yang dicopot dari Apriyanto. Pantauan Sumut Pos di Markas Gedung Reserse Narkoba Polda Sumut, papan nama yang tergantung di depan ruangan Wadir yang biasa tertulis Wadir Narkoba Polda Sumut AKBP Apriyanto.juga telah dicopot. Sayang, saat ditanyai beberapa petugas jaga, tak satu pun ada petugas yang mau berkomentar. (mag-5)

Apriyanto Itu Orang Rumahan

Pencopotan AKBP Apriyanto Basuki Rahmat sebagai wakil direktur direktorat narkoba Polda Sumut karena diduga terlibat kasus narkoba mengejutkan banyak pihak. Yang paling terkejut adalah orang-orang yang menjalankan bisnis tempat hiburan malam.

Dari para kalangan pencinta dunia gemerlap malam, Apriyanto mereka sebut orang rumahan yang tak kenal kehidupan dunia gemerlap malam (dugem). Beberapa orang yang berbisnis usaha hiburan malam maupun humas di beberapa tempat hiburan malam yang diwawancarai Sumut Pos, mengaku hanya mengetahui nama Apriyanto, tapi tidak kenal wajahnya.

Alasan itu dikatakan mereka karena ketidaksamaan hobi dengan sang pejabat polisi tersebut. Pasalnya, Apriyanto diketahui tidak suka minum dan narkoba. Setidaknya hal ini diungkapkan salah seorang yang berkecimpung di bisnis hiburan malam yang dihubungi Sumut Pos. Dan sebutan orang rumahan untuk sang wadir juga dibenarkannya.

Menurut pria keturunan yang namanya tak ingin dipublikasikan itu, selama ia berkecimpung di dunia hiburan malam, baru kali ini pejabat polisi yang dikenalnya sebagai orang rumahan. Diakuinya, pernah ia sekali bergabung dengan Apriyanto saat karoke. Apriyanto dilihatnya berbeda. “Wa lihat dia beda. Gak suka minum. Apalagi narkoba. Saya yakin dia tidak. Kalau nyanyi kerjanya cuma makani snack (makanan ringan),” katanya.

Dia juga menanggapi peristiwa razia hingga isu pemesanan happy five saat Apriyanto di tempat hiburan malam Paramount di Jalan Merak Jingga, Medan, sebagai sesuatu yang janggal. Pasalnya, selain Apriyanto sosok rumahan, di tempat hiburan sekitar Paramount saat itu tidak ada razia. Misalnya, di gedung Capital yang berjarak 500 meter dari Paramount dan tempat hiburan malam di Hotel Grand Aston yang berjarak 700 meter. Tentu keterangan ini berseberangan dengan apa yang dikatakan Direktur Reserse Narkoba Polda Sumut Kombes Pol Anjard Dewanto. Sebelumnya dia mengatakan razia yang mereka lakukan pada tanggal 12 Februari lalu adalah razia rutin dalam pemberantasan narkoba. (mag-5)
Sources News From : Hariansumutpos.com

Tidak Memadai Lapas Labuhan Ruku dihuni 629 Napi

NLS/LABUHANRUKU-Kondisi Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Labuhan Ruku Kabupaten Batubara over kapasitas. Sebab jumlah narapidana dan tahanan melebihi kapasitas. Hal itu disampaikan Kepala Lapas Labuhan Ruku Drs Zaherman BCIp melalui Humas H Damanik, Selasa (21/2).
Kepada METRO, Damanik menerangkan saat ini jumlah penghuni Lapas Labuhan Ruku mencapai 629 orang. Padahal sebenarnya kapasitas lapas sebenarnya hanya mampu menampung 235 orang.
Dia mengaku, untuk menutupi itu pihaknya harus memperbanyak jumlah penghuni dalam satu kamar, menjadi 15-20 orang. Padahal sewajarnya satu kamar hanya dihuni 5 orang.
Disebutkan Damanik, luas areal Lapas yang dibangun tahun 1978 termasuk di dalamnya bangunan sel tahanan dan perumahan petugas, hanya 22.556 meter.
Penghuni Lapas, sambungnya, wajib mengikuti kegiatan pembinaan kerohanian berupa kebaktian dan pengajian serta belajar membaca Alquran.
Selain itu, narapidana dilatih berkarya membuat papan bunga, memelihara ikan, pembuatan paving block, doorsmeer, dan memangkas rambut. Tujuannya, agar setelah bebas para narapidana dapat menciptakan dan mampu berkarya meneruskan kegiatan sehingga kelak dapat memenuhi kebutuhan hidup.
Informasi dihimpun METRO dari beberapa petugas, pihaknya sangat mengeluhkan kondisi kendaraan yang sudah tidak layak pakai karena sering rusak dan anggaran perbaikan sangat terbatas.
”Kalau ada penghuni lapas yang sakit, petugas kewalahan meminjam kendaraan, karena mobil dinas mogok-mogok,” ketus seorang petugas yang tidak mau namanya dipublikasikan.
Mereka berharap Kementerikan Hukum dan HAM serta Pemkab Batubara dapat mengalokasikan anggaran untuk memerbaiki kendaraan dan melakukan rehabilitasi atas kondisi Lapas yang semakin sempit karena over kapasitas.(CK-1)
News Source From :
Metrosiantar.com

Pembunuhan Berantai Mujianto mencapai 15 Korban

NLS/NGANJUK - Lelaki itu diam menunduk. Sorot matanya tampak sayu. Mujianto namanya. Tetangganya mengenal dia sebagai lelaki desa yang kalem. Tapi, siapa sangka, di balik penampilannya yang pendiam itu dia adalah pembunuh berdarah dingin. Sejak 2011, sebanyak 15 teman kencannya sesama gay telah ia racuni.

Dalam pengakuannya di kantor Kepolisian Resor Nganjuk kemarin, Mujianto mengaku membunuh karena cemburu. Para korban itu adalah lelaki simpanan pasangannya sesama gay, Joko Suprianto. Semuanya ia racuni. "Hanya ngerjain saja biar (mereka) kapok," kata Mujianto.

Mujianto dibekuk di rumah pasangannya, Joko Suprianto, di Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk, Senin, 13 Februari lalu. Joko adalah duda, 49 tahun, majikan dan kekasih Mujianto. Jejaknya terendus dari pengakuan korbannya yang selamat, yakni Muhammad Fais. Dalam dua bulan ini ulah pria 21 tahun itu menewaskan empat orang, yakni Ahyani, 46 tahun, warga Situbondo; Romadhon (55), Sudarno alias Basori (42), keduanya warga Ngawi; dan seorang lagi belum diketahui identitasnya, pria berusia 32 tahun.

Adapun korban selamat adalah Muhammad Fais, 28 tahun, asal Pasuruan, dan Anton S. Sumartono, 47 tahun, asal Surakarta. Sembilan korban lainnya belum diketahui nasibnya. "Kami masih menyelidiki sembilan korban lainnya," kata Kepala Kepolisian Resor Nganjuk Ajun Komisaris Besar Anggoro Sukartono.

Sebelum melancarkan aksinya, Mujianto mencuri semua nomor telepon calon korban dari ponsel kekasihnya, Joko. Lalu dia merayu selingkuhan Joko, yang adalah para pria gay. Dia menghubungi mereka satu per satu dengan dalih ingin berkenalan. Setelah cukup dekat, Mujianto mengajak korbannya bertemu di Nganjuk untuk berjalan-jalan. Mujianto menuturkan, saat jalan-jalan itulah dia melakukan hubungan badan dengan korbannya di beberapa tempat, seperti persawahan atau toilet stasiun pengisian bahan bakar.

Siasat terakhirnya adalah mengajak korbannya ke warung. Di tempat inilah dia meracuni minuman korban. Saat korbannya lemas, dia menitipkannya ke rumah warga. Kepada pemilik rumah, Mujianto berdalih hendak memanggil dokter sebelum akhirnya kabur.

Suparno, keluarga salah satu korban Mujianto, yakni Romadhon, menceritakan, "Sebelum meninggal dunia, almarhum sempat bercerita bahwa ia ditipu dan sempat makan bakso yang diduga beracun," ujar Suparno.

Psikolog dari Universitas Gadjah Mada, Magda Bhinetty, mengatakan perilaku kekerasan yang dilakukan pasangan gay cenderung lebih tinggi ketimbang pasangan lainnya. "Bisa juga karena didukung karakter yang posesif pada pasangannya," ujarnya.

News Source :
Tempo.co

Kapolsek Simpang Kawat Berantas Penyakit Masyarakat

KAPOLSEK SIMPANG KAWAT, AKP. RUDY CHANDRA SH BERKOMIT.

NewsLintasSumatera
-Lagi masalah Judi dan Narkoba di wilayah hokumnya ingin memberantas penyakit masyarakat seperti Judi, Narkoba dan Miras.
Jadi komit kapolsek simpang kawat : Akp Rudy Chandra SH mengharapkan diwilayah hukumnya harus bebas dari penyakit masyarakat. Sebagai harapan kapolsek atas penyakit masyarakat tersebut Kapolsek samapi berani mengatakan Apabila di wilayah hukumnya belum bebas dari penyakit masyarakat, maka Kapolsek berani menaruhkan jabatanya apabila di wilayah hukumnya masih ada pelanggaran seperti penyakit masyarakat tersebut dan akan ditindak secara hokum sesuai dengan perintah Kapolri yang dijalankan oleh Jajaran Kepolisian.
(EKS)

Kanit Reskrim Threatened Mutations result Not Able Overcoming gambling

NSN Medan-Ultimatum hard, suddenly thrown Medan police chief Sr. Comr Tagam Sinaga Drs. Admitted to not want to be a nest of Medan gambling, he threatened to remove Kanit Criminal Police in its ranks, if judged not capable of combating these social ills.

These hard words, would make the Kanit Criminal Police Sector 12 in the region Mapolresta this field can not sleep well. Description Medan police chief was mentioned during a meeting with the Head of Environment 352 (Kepling), from the 4th District: East Field, West Field, Helvetia and the District of Medan Labuhan.

"If not able to eradicate gambling, will I dislodged Kanit Reskrimnya. Because Kanit Reskrimlah who know and control its members, "said Tagam Sinaga. Former Police Chief Labuhan Stone reveals, removal orders against Kanit Reskrim when not able to eradicate gambling in their jurisdiction, is the command Inspector General Kapoldasu Wisjnu Sastro Amat.

"This command is the name of Kapoldasu. I'm not kidding. Because this field has mushroomed gambling, "said Tagam in front of Kepling, Jalan Merdeka field Penang, Jakarta, yesterday afternoon (28 / 9).
Medan police chief summoned to kepling of four District 352, because in this district who are considered prone to gambling. "Kepling also be pro-active, report it to police anyone bookie or gambling in wilahnya players," said the officer Mapolresta number one in this field.

Continue Tagam, gambling pembarantasan orders came into force as from 25 September 2011 and lasted for three Sundays. "If within 3 Weeks of Medan did not clean from gambling, I was immediately dislodged Kanit Criminal," he continued. Delivered, it has succeeded in capturing 84 suspected gambling within 4 days of multiple locations. "Gambling that we tanggani today, gambling online games, cheat, tomed and Sam Kwan and gambling dice," he said.

Then, if the City field will be safe from any form of gambling? We await the ability of the police wrote.

Junior high school student Murdered, Raped Her body was

NSNSiantar-Inhuman! A woman aged 13 years was estimated, was found dead pathetic. Biram's face and chest, strangulation marks on her neck and her mouth was found bleeding. Tragically, a strong suspicion that her body odor kencur murderers raped.

Unfortunately, brown-skinned female identity was not known until Sunday (9 / 10) night. When found, shoulder-length curly haired girl clothes were exposed to the top. Likewise scout skirt she was wearing. Underwear is also gone.

The finding that skinny girl instantly shattering Hamlet II Yemeni village, District Aek Latas, North Labuhanbatu (Labura) Saturday (8 / 10). Hundreds of residents who witnessed the evacuation of corpses, precisely on former agricultural land palm trees, none recognize it. His body was finally brought to RSU Dr. Djasamen Saragih Pematangsiantar for autopsy.

According to the Criminal Police Kanit Aek Natas, Aiptu Pandiangan Purba who helped bring the bodies said the body was first noticed a bull named pengangon Darno (40), approximately at 15.00 WIB. Further forward informsi to the local village chief to forward it to the Police.

When the crime scene, the victim was wearing brown colored shirt and skirt scout. Transparent shoe brand that has not unknown, was found three feet from his body. Believed, the woman sitting in junior high school, but not known where. You see, no bags, textbooks or school attributes that are found there. While reports loss in Aek Natas police jurisdictions, the last two months of absolutely nothing.

Appropriate description of the autopsy doctor Djasamen Saragih Forensic Hospital, dr. Dr. Reinhard Hutahean, Sunday (9 / 10), found fluid on his cock. Not yet known what type of fluid because it is still waiting for laboratory results. "Clearly, violence is found in the vagina, because the insert is punctured by a blunt object," he explained.

From a physical condition, the victim allegedly killed up to 24 hours before his body was found the citizens. Other physical characteristics that lead to death, allegedly due to blunt trauma or impact marks on the head.

Blue bruises on the neck, chest, face, eye and cheek section on the left. Bruising on the neck of the victim is a strong possibility to make the lives lost due to obstruction of the respiratory forwarded to the lungs. Estimate the age of 13 years, is known from the victim's teeth.

The special features are known, the mole at the base of the nose in the crevice between the eyes, brown skin color, two moles on the right and left shoulder. While the third gear right down the victim, foul. Even before the death, it is believed the victim had time to do the fight because there is a small bruise on the arm of the two victims. Presumably also, he was killed first and disperkosa. Unfortunately, until at 12.00 WIB according Aiptu Pandiangan, had not yet received information regarding the identity of the victim. It's just confirmed the discovery of the bodies is 300 meters from the roadside or 5 miles from the local police.

Categories

 
Copyright © 2011. NEWS LINTAS SUMATERA . All Rights Reserved.
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Design by Creating Website. Inspired from Metamorph RocketTheme